Kenali Gejala Gangguan Tumbuh Kembang Anak

gangguan tumbuh kembang anak
Sumber: ScienceNews

Ibu-Indonesia.com – Proses tumbuh kembang yang dialami setiap anak berbeda, sehingga kecepatan pencapaian perkembangan pun juga berbeda. Rentang waktu yang dibutuhkan untuk setiap tahapan perkembangan pun juga cukup besar. Misal, kategori normal bagi anak untuk dapat berjalan ada di antara usia 10 hingga 18 bulan. Sehingga sering terjadi perbedaan perkembangan di antara anak seusia tersebut. Oleh karena itu, Ibu wajib kenali gejala gangguan tumbuh kembang anak.

Banyak sekali jenis gangguan tumbuh kembang anak, mulai dari yang ringan hingga kompleks. Berikut ini akan dijelaskan beberapa gejala gangguan tumbuh kembang anak beserta cara mengatasinya. Diharapkan sebagai orangtua, Ibu pun dapat kenali tahapan mengoptimalkan tumbuh kembang anak sejak dini sehingga gejala akan gangguan tumbuh kembang pada anak pun dapat diatasi dengan baik.

1. Keterlambatan Kemampuan Bicara (Speech Delay)

Gejala gangguan tumbuh kembang anak yang pertama adalah kegagalan dalam mengembangkan kemampuan berbicara yang diharapkan dapat dicapai oleh anak seusianya. Dengan kata lain, kemampuan berbicara anak tertinggal beberapa bulan dari teman-teman seusianya.

Penyebab keterlambatan kemampuan bicara pada anak pun beragam. Beberapa di antaranya seperti adanya masalah pendengaran, belum tercapainya tingkat kematangan organ-organ bicara, hingga kurangnya stimulasi atau kurang terpapar di lingkungan sosial.

Ada beberapa cara yang dapat Ibu lakukan untuk mengatasi anak yang mengalami keterlambatan dalam kemampuan berbicara ini, antara lain :

  • Membacakan buku cerita bergambar, sehingga anak dapat menunjuk dan memberi nama benda-benda yang ia kenali.
  • Gunakan bahasa yang mudah dan sederhana ketika berbicara pada anak
  • Koreksi ucapan yang salah dari anak
  • Jangan pernah mengabaikannya dan selalu berikan respon positif terhadap apapun yang ia katakan
  • Jangan pernah paksa ia mengatakan sesuatu karena akan membuatnya tertekan

2. Keterlambatan Kemampuan Berjalan

Umumnya, anak dapat berjalan ketika memasuki usia 8 bulan hingga 18 bulan. Seorang anak dapat dikatakan mengalami terlambat jika hingga usia lebih dari 18 bulan belum mampu berjalan, sehingga diperlukan intervensi. Hal ini merupakan salah satu gejala gangguan tumbuh kembang anak yang perlu Ibu waspadai.

Banyak penyebab dibalik keterlambatan kemampuan berjalan seorang anak seperti di antaranya, gangguan neurologi karena kondisi kesehatan anak yang kurang mendukung dan gizi buruk, faktor keturunan, bentuk dan berat badan anak, serta kondisi orangtua dan lingkungan yang overprotective.

Bila hal ini terjadi, Ibu dapat mengatasinya dengan beberapa cara seperti menatih penuh kesabaran atau menggunakan berbagai alat sebagai bantuan misalnya, kursi plastik yang kokoh atau meja kecil yang ringan hingga galon air mineral yang tidak terisi penuh sehingga anak tertarik untuk mendorongnya. Latih anak dengan penuh kegembiraan tanpa ada paksaan sedikit pun, serta pastikan lingkungan di sekitarnya aman. Sebaiknya, Ibu hindari penggunaan baby walker karena pada dasarnya, alat ini menyebabkan anak malah jadi malas berjalan ketika dilepas. Bahkan, penggunaan baby walker terkesan bahaya karena ada beberapa kasus terjadinya kecelakaan pada anak.

3. Autisme

Gejala gangguan tumbuh kembang anak yang patut Ibu waspadai berikutnya adalah autisme yang merupakan gangguan perkembangan kompleks, umumnya muncul sebelum usia tiga tahun sebagai hasil dari gangguan neurologis yang mempengaruhi fungsi normal otak pada anak. Gangguan ini menyebabkan terganggunya perkembangan dalam area interaksi sosial dan keterampilan komunikasi.

Pada umumnya, anak penyandang autis akan menunjukkan gejala kesulitan dalam berkomunikasi verbal maupun nonverbal, interaksi sosial, dan juga kegiatan bersosialisasi seperti, bermain bersama anak-anak lain seusianya. Tingkah laku mereka juga terbatas berupa pengulangan dan stereotip atau cenderung meniru. Seorang anak yang mengalami autis akan mengalami beberapa kesulitan dalam hal makna, komunikasi, interaksi sosial, dan berimajinasi, sehingga ia akan sangat banyak menemui kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, hal semacam ini yang malah menjadikan anak autis kerap menjadi korban bully atau penindasan oleh anak-anak normal di sekitarnya. Untuk itu, peran Ibu sebagai orangtua sangat dibutuhkan apalagi jika anak Ibu tergolong anak yang sehat dan cerdas. Ibu dapat mulai mengajarkannya sedini mungkin atau kurang lebih di usia 4 tahun ketika ia sudah dapat diajak berkomunikasi dengan baik secara dua arah. Lakukan cara sederhana untuk menanamkan sopan santun anak usia 4 tahun, tambahkan dengan mengajarkan rasa hormat dan menghargai atas kelebihan dan kekurangan orang lain. Cara ini tentu dapat menghindarkan seorang anak menjadi sosok penindas nantinya.

Autis merupakan salah satu permasalahan pada anak yang masih belum diketahui penyebab pastinya. Banyak teori yang terus berkembang dan masih diteliti hingga kini. Ada beberapa kesimpulan yang ditemukan oleh para ahli, seperti permasalahan pada awal perkembangan anak, pengaruh genetik, hingga abnormalitas pada otak.

Cara mengatasinya pun beragam, disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak tersebut. Ibu dapat memodifikasi perilaku dengan bantuan dari tenaga ahli profesional, menggunakan sarana pendukung, hingga terapi wicara.

Demikian penjelasan mengenai gejala gangguan tumbuh kembang anak yang dapat Ibu jadikan pedoman untuk deteksi dini tumbuh kembang mereka. Selalu bersyukur dengan nikmat berupa anak yang telah dikaruniakan oleh Tuhan. Jangan pernah berkecil hati atas apapun kondisi mereka, karena yang mereka harapkan hanyalah orangtua yang bisa menerima mereka apa adanya. Kewajiban Ibu sebagai orangtua adalah mendidik meski dalam keterbatasan yang mereka miliki. Tetap semangat dengan limpahan kasih sayang ya, Bu. Semoga bermanfaat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*