Cara Tepat Mengatasi Setelah Deteksi Alergi Anak

deteksi alergi anak
Sumber: Pixabay

Ibu-Indonesia.com – Alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat asing yang dihirup, disuntikkan, tertelan, atau bahkan tersentuh.

Alergi pada anak adalah salah satu masalah kesehatan yang sering dialami. Gangguan ini ternyata dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala penderita Autism dan ADHD.

Terdapat 3 faktor penyebab terjadinya alergi makanan, yaitu faktor genetik, imaturitas usus, dan juga pajanan alergi yang kadang memerlukan faktor pencetus.

Jika menderita alergi akibat salah satu faktor di atas, anak biasanya akan menunjukkan beberapa gejala berikut.

  1. Bengkak pada wajah, bibir, dan lidah.
  2. Muntah-muntah atau diare.
  3. Gatal-gatal atau kulit terdapat bilur-bilur menyerupai bekas luka.
  4. Batuk-batuk atau bersin-bersin.
  5. Kulit memerah atau ruam.
  6. Susah bernapas.
  7. Hilang kesadaran atau pingsan.

Melihat demikian luas dan banyaknya pengaruh alergi yang mungkin bisa terjadi, maka alergi tersebut harus diatasi. Cara terbaik mengatasi alergi adalah dengan mengetahui penyebabnya. Dengan mengetahui penyebabnya, kita akan mudah menghindarkan anak untuk bersentuhan dengan alergen sehingga alergi tidak sering kambuh.

Selain itu,  Mendeteksi gejala alergi sekaligus mengetahui faktor-faktor pemicu alergi sedini mungkin juga menjadi faktor penting untuk mengendalikan alergi. Gejala serta faktor  resiko alergi dapat dideteksi sejak lahir, bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Berikut beberapa cara yang bisa Ibu terapkan pada buah hati Anda.

1. Deteksi riwayat kesehatan orangtua

Risiko alergi pada anak bisa diperkirakan dengan mengamati riwayat kesehatan orangtua. Jika kedua orangtua mengidap alergi, maka risiko anak mengalami alergi adalah 40-80%. Jika salah satu orangtua yang alergi, risikonya menjadi 20-40%. Sedangkan, bila kedua orangtua tidak menderita alergi, Si Kecil masih tetap berisiko mengalami alergi antara 5-15%. Kian tinggi risiko, orangtua perlu lebih cermat mengantisipasi kondisi alergi yang kemungkinan akan dialami si Kecil.

2. Deteksi dari dalam kandungan

Secara teori, deteksi dini alergi sudah bisa dilakukan sejak dalam kandungan. Meski masih perlu dilakukan penelitian mendalam, sebuah studi yang dipublikasikan di World Allergy Organization Journal (2009), mengungkapkan bahwa paparan terhadap zat alergen tertentu pada ibu hamil bisa memicu respon imun pada janin. Selain itu, perubahan gerakan janin juga diduga memiliki korelasi terhadap risiko timbulnya alergi pada sang anak di kemudian hari; gerakan janin yang amat meningkat terutama pada malam hingga pagi hari merupakan faktor prediktif yang cukup kuat bahwa anak berisiko alergi.

3. Deteksi di usia batita

Gejala alergi bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari suara napas berat (berbunyi “grok-grok”) pada anak, sakit perut (kolik), kulit sensitif (sering muncul bintik atau bisul kemerahan pada pipi, telinga, dan daerah yang tertutup popok), sering menderita pilek berkepanjangan, sering bersin dan batuk – terutama di malam dan pagi hari, kotoran telinga berlebihan, dan sebagainya. Jika si kecil mengalami gejala tersebut, konsultasikan pada dokter mengenai kemungkinan ia menderita alergi.

4. Deteksi secara ilmiah

Jika si kecil mengidap alergi, Anda bisa memastikan zat-zat apa saja yang menjadi faktor pencetusnya melalui tes berikut ini:

  • Skin Prick Test (Tes Tusuk)

Melalui Skin Prick Test (SPT), dokter akan meneliti reaksi tubuh terhadap lebih dari 33 jenis alergen, mulai dari alergen yang dihirup (debu, tungau, serbuk bunga, dll) sampai alergi makanan (susu, seafood, kacang, dll). Pemeriksaan dimulai dengan cara meneteskan beberapa jenis cairan alergen pada kulit area lengan bawah untuk selanjutnya dilakukan penusukan/pencukitan pada kulit tersebut menggunakan jarum khusus. Hasil tes bisa diketahui dalam 15-20 menit.

  • Tes Darah

Sesuai namanya, pemeriksaan akan dilakukan terhadap sampel darah yang diambil dari tubuh anak. Tes darah biasanya dilakukan terhadap pasien alergi yang tidak bisa menjalani SPT karena berbagai penyebab. Dibandingkan SPT, tes darah membutuhkan biaya yang lebih tinggi meskipun akurasi hasilnya terbilang setara.

  • Uji Tempel Kulit

Pemeriksaan ini dilakukan untuk evaluasi reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Uji tempel kulit dilakukan dengan cara menempelkan alergen pada kulit selama 2-3 hari.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*